Tantangan dan Dinamika PMKRI
Oleh
ALFREDO PANCE SARAGIH
Ketua Presidium PMKRI Cabang Pematangsiantar-Simalungun
Santo Fransiskus dari Assisi Periode 2015-2016
Santo Fransiskus dari Assisi Periode 2015-2016
Perhimpunan
Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI)
adalah suatu wadah pembinaan mahasiswa yang mengabdikan dirinya untuk
berkarya dalam mewujudkan keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati.
PMKRI memiliki misi untuk berjuang dengan terlibat dan berpihak pada kaum
tertindas melalui kaderisasi intelektual populis yang dijiwai nilai-nilai
kekatolikan untuk mewujudkan keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan
sejati.
Kehidupan dan aktifitas Perhimpunan Mahasiswa Katolik
Republik Indonesia (PMKRI) sebagai organisasi pembinaan dan perjuangan berada
dalam dimensi waktu. PMKRI hadir di masa lalu, berada di kekinian dan memiliki
sejuta harapan untuk mewujudkan jati diri di hari esok. Totalitas masa lalu,
kini dan masa depan PMKRI merupakan suatu mata rantai yang terintegral, serta
mengandung catatan kebenaran sejarah serta semangat idealisme.
Seiring
pergeseran waktu bersamaan dengan perubahan ruang telah melahirkan tantangan dan dinamika baru bagi PMKRI dalam
menatap masa depan. Kondisi demikian menuntut PMKRI sebagai organisasi
pengkaderan untuk lebih siap menjawab tantangan yang ada. Hal ini dapat kita wujudkan
melalui peran yang nyata yang dilakukan ditengah-tengah masyarakat.
INTERN
KATOLIK
Melihat
kondisi kekinian, sering kita mempertanyakan dimana peran PMKRI saat ini,
mereka datang setiap kali meminta dana, selalu memberikan argumentasi untuk
mempertahankan diri, mengapa tidak memberikan argumentasi untuk perjuangannya. Di samping itu, terjadi juga kemelut intern
organisasi yang mencoreng wajah dan citra PMKRI sebagai wadah pembinaan dan
perjuangan mahasiswa. Sehingga banyak pihak yang menunjukkan sikap dan tutur
kata yang antipati dan bernada minor tentang PMKRI. Bahkan, pastor moderator sendiri
sebagai penasehat rohani seringkali pesimis dan apriori terhadap PMKRI. Apa salah PMKRI ?
Di
samping itu, hirarki gereja selaku jembatan penghubung antara PMKRI dengan
gereja dan umat cenderung kurang memberikan dukungan, baik itu materil maupun
moril. Padahal, katolik selalu mengatakan bahwa pemuda sebagai “tunas bangsa
dan bunga gereja “, namun prinsip ini saya pikir tidak berjalan maksimal.
PMKRI
menjadi wadah pemuda yang berstatus mahasiswa adalah calon-calon pemimpin bangsa
yang seharusnya dapat membanggakan katolik. Peran katolik dalam pembangunan bangsa
terwujud melalui peran tokoh-tokoh katolik dalam pemerintahan maupun lembaga
lain yang muaranya adalah pembangunan Indonesia.
PMKRI,
yakni sebagai organisasi pembinaan dan pengkaderan yang menjiwai nilai-nilai
kekatolikan, dalam menjalankan roda organisasi cenderung “seiring tapi tak
sejalan” dengan ormas katolik lainnya. Salah satu contoh misalnya dari hubungan PMKRI dengan KMK (Keluarga Mahasiswa
Katolik), tidak adanya sinergitas kedua
wadah ini dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai kaum intelektual di
tengah-tengah masyarakat, yang memang berlabelkan katolik. Disinilah semestinya
peran hirarki gereja melakukan upaya mempersatukan potensi-potensi yang
dimiliki KMK dengan potensi yang terdapat di PMKRI, tanpa harus menyatukan secara
lembaga.
PMKRI
dengan OMK ?
Secara
organisatoris, hubungan antara PMKRI dengan OMK yang saya amati selama ini
adalah tidak terciptanya persaudaraan
dan hubungan yang baik terutama sebagai sesama orang muda katolik. Bahkan dalam
kegiatan-kegiatan gereja, keaktifan PMKRI dianggap saingan oleh OMK. Namun,
yang salah dalam hal ini bukanlah OMK itu sepenuhnya, melainkan pengaruh
pandangan-pandangan dari pihak yang berwewenang dalam proses pembinaan OMK. Di
sisi lain, PMKRI juga kurang menyadari bahwa sebagian OMK adalah cikal bakal
calon anggota PMKRI. Menurut saya sudah seharusnya PMKRI menjalin hubungan yang
lebih erat dengan OMK, agar tercipta sinergitas dalam memainkan perannya
sebagai kaum muda katolik. Apabila hal ini terwujud, maka PMKRI akan mudah
dalam melakukan sosialisasi di gereja dan masyarakat.
PMKRI
sebagai integral yang tidak terpisahkan dari gereja katolik senantiasa tetap
berusaha untuk komitmen dan konsistensi serta integrasi dengan ajaran katolik
dalam menjalankan roda organisasi. Dengan sadar, baik atas nama pribadi anggota
maupun secara organisatoris PMKRI senantiasa berjuang untuk untuk mempersiapkan
kader bangsa dan gereja masa depan yang tangguh dan tanggap serta mampu
menjalankan estafet perjuangan gereja. Namun, komitmen dan konsistensi itu sering
diragukan oleh pihak di luar PMKRI, sehingga
muncul berbagai tanggapan yang kurang mendukung, misalnya dari hirarki
gereja. Hal ini perlu juga kita refleksikan bersama, dimana letak kekurangan
kita selama ini? Salah satu ialah kurangnya komunikasi antara PMKRI dengan
hirarki. Kurangnya komunikasi ini menimbulkan tidak adanya kesepahaman dan
kerja sama yang baik dalam menjalankan perannya masing-masing.
EKSTERN
KATOLIK
Di
samping berbagai kendala dan tantangan
yang dihadapi dari intern katolik, PMKRI juga mengalami kendala dan tantangan
dari ekstern katolik, yang lingkupnya lebih luas. Dan setelah membaca berbagai artikel dan diskusi
dengan berbagai mahasiswa yang ikut organisasi di luar PMKRI, saya mengambil
kesimpuan bahwa hampir semua keorganisasian mahasiswa mengalami kendala yang
sama. Adapun 2 kendala terbesar (diluar katolik) yang dihadapi oleh PMKRI
adalah sebagai berikut
1. Rendahnya minat mahasiswa untuk berorganisasi
Saat ini, minat
mahasiswa untuk berorganisasi boleh kita katakan rendah atau minim. Hal ini
tidak terlepas dari mahasiswa sebagi individu, bagian dari keluarga, masyarakat dan kampus. Keadaan lingkungan tersebut otomatis
mempengaruhi paradigma mahasiswa itu sendiri, terutama orang tua. Umumnya,
orang tua beranggapan mahasiswa itu tugasnya hanya kuliah, kuliah dan kuliah. Saya berani mengatakan hal ini karena saya
juga mengalaminya. Padahal, kita sebagai mahasiswa dituntut harus mampu menjadi
agen-agen perubahan ( agent of change)
, pengawas ( social control) di
tengah-tengah masyarakat. Mahasiswa harus mampu mengemban penderitaan kaum
tertindas, menjadi benteng kaum lemah dan miskin, dan tugas itu mustahil bisa terwujud apabila kita
berjalan sendiri-sendiri.
Maka, kita harus menyatukan
persepsi dan konsepsi akan kondisi sekitar kita, dan kita akan mampu merealisasikannya
melalui organisasi, baik intern maupun ekstra universitas. Salah satu
organisasi ekstern universitas itu adalah Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik
Indonesia (PMKRI) .
2. Birokrasi
Kampus dan Dosen
Saat ini, para pimpinan
atau birokrasi perguruan tinggi dan para
dosen kurang mendukung aktifitas mahasiswa dalam mengembangkan kreatifitasnya,
terkhusus dalam kegiatan berorganisasi. Hal ini dibuktikan dengan tanggapan dan
pandangan miring para dosen tentang mahasiswa yang berorganisasi. Bahkan
pandangan miring tentang mahasiswa berorganisasi ini dijadikan sebagai “nasehat
empuk” untuk melunakkan mahasiswa lain (terutama mahasiswa baru) agar tidak
ikut dalam organisasi-organisasi, terutama organisasi ekstern kampus. Kemudian,
organisasi ekstern kampus terkena imbasnya, yaitu terkendala dan kesulitan dalam merekrut dan
mengajak untuk anggota untuk ikut dan aktif dalam kegiatan organisasi.
3. Pemerintah
Pemerintah juga umumnya
secara tidak langsung, menginginkan
mahasiswa itu hanya kuliah, kuliah dan kuliah. Pemerintah masuk akal memiliki
prinsip demikian karena mereka takut di demo, di kritik, atau di intervensi mahasiswa
kebijakan yang mereka tetapkan.
Tetapi, dengan berbagai
kendala, tantangan dan dinamika yg dihadapi tidaklah memadamkan api semangat
kita dalam mewujudkan visi dan misi perhimpunan ini. Segala yang terjadi di
masa lalu hingga saat ini, mari kita jadikan sebagai proses pendewasaan
organisasi dan pematangan kader-kader PMKRI agar mampu berkarya di tengah
masyarakat.
Religio Omnium Scientiarum Anima;
Pro Ecclesia Et Patria!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar