Selasa, 20 September 2016

Tantangan dan Dinamika PMKRI

Tantangan dan Dinamika PMKRI
Oleh ALFREDO PANCE SARAGIH
Ketua Presidium PMKRI Cabang Pematangsiantar-Simalungun
Santo Fransiskus dari Assisi Periode 201
5-201
6
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI)  adalah suatu wadah pembinaan mahasiswa yang mengabdikan dirinya untuk berkarya dalam mewujudkan keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati. PMKRI memiliki misi untuk berjuang dengan terlibat dan berpihak pada kaum tertindas melalui kaderisasi intelektual populis yang dijiwai nilai-nilai kekatolikan untuk mewujudkan keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati.
Kehidupan  dan aktifitas Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) sebagai organisasi pembinaan dan perjuangan berada dalam dimensi waktu. PMKRI hadir di masa lalu, berada di kekinian dan memiliki sejuta harapan untuk mewujudkan jati diri di hari esok. Totalitas masa lalu, kini dan masa depan PMKRI merupakan suatu mata rantai yang terintegral, serta mengandung catatan kebenaran sejarah serta semangat idealisme.
Seiring pergeseran waktu bersamaan dengan perubahan ruang telah melahirkan  tantangan dan dinamika baru bagi PMKRI dalam menatap masa depan. Kondisi demikian menuntut PMKRI sebagai organisasi pengkaderan untuk lebih siap menjawab tantangan yang ada. Hal ini dapat kita wujudkan melalui peran yang nyata yang dilakukan ditengah-tengah masyarakat.
INTERN KATOLIK
Melihat kondisi kekinian, sering kita mempertanyakan dimana peran PMKRI saat ini, mereka datang setiap kali meminta dana, selalu memberikan argumentasi untuk mempertahankan diri, mengapa tidak memberikan argumentasi untuk perjuangannya.  Di samping itu, terjadi juga kemelut intern organisasi yang mencoreng wajah dan citra PMKRI sebagai wadah pembinaan dan perjuangan mahasiswa. Sehingga banyak pihak yang menunjukkan sikap dan tutur kata yang antipati dan bernada minor tentang PMKRI. Bahkan, pastor moderator sendiri sebagai penasehat rohani seringkali pesimis dan apriori terhadap PMKRI.  Apa salah PMKRI ?
Di samping itu, hirarki gereja selaku jembatan penghubung antara PMKRI dengan gereja dan umat cenderung kurang memberikan dukungan, baik itu materil maupun moril. Padahal, katolik selalu mengatakan bahwa pemuda sebagai “tunas bangsa dan bunga gereja “, namun prinsip ini saya pikir  tidak berjalan maksimal.
  PMKRI menjadi wadah pemuda yang berstatus mahasiswa adalah calon-calon pemimpin bangsa yang seharusnya dapat membanggakan katolik.  Peran katolik dalam pembangunan bangsa terwujud melalui peran tokoh-tokoh katolik dalam pemerintahan maupun lembaga lain yang muaranya adalah pembangunan Indonesia.
PMKRI, yakni sebagai organisasi pembinaan dan pengkaderan yang menjiwai nilai-nilai kekatolikan, dalam menjalankan roda organisasi cenderung “seiring tapi tak sejalan” dengan ormas katolik lainnya. Salah satu contoh misalnya dari  hubungan PMKRI dengan KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik), tidak adanya  sinergitas kedua wadah ini dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai kaum intelektual di tengah-tengah masyarakat, yang memang berlabelkan katolik. Disinilah semestinya peran hirarki gereja melakukan upaya mempersatukan potensi-potensi yang dimiliki KMK dengan potensi yang terdapat di PMKRI, tanpa harus menyatukan secara lembaga.
PMKRI dengan OMK ?
Secara organisatoris, hubungan antara PMKRI dengan OMK yang saya amati selama ini adalah  tidak terciptanya persaudaraan dan hubungan yang baik terutama sebagai sesama orang muda katolik. Bahkan dalam kegiatan-kegiatan gereja, keaktifan PMKRI dianggap saingan oleh OMK. Namun, yang salah dalam hal ini bukanlah OMK itu sepenuhnya, melainkan pengaruh pandangan-pandangan dari pihak yang berwewenang dalam proses pembinaan OMK. Di sisi lain, PMKRI juga kurang menyadari bahwa sebagian OMK adalah cikal bakal calon anggota PMKRI. Menurut saya sudah seharusnya PMKRI menjalin hubungan yang lebih erat dengan OMK, agar tercipta sinergitas dalam memainkan perannya sebagai kaum muda katolik. Apabila hal ini terwujud, maka PMKRI akan mudah dalam melakukan sosialisasi di gereja dan masyarakat.

PMKRI sebagai integral yang tidak terpisahkan dari gereja katolik senantiasa tetap berusaha untuk komitmen dan konsistensi serta integrasi dengan ajaran katolik dalam menjalankan roda organisasi. Dengan sadar, baik atas nama pribadi anggota maupun secara organisatoris PMKRI senantiasa berjuang untuk untuk mempersiapkan kader bangsa dan gereja masa depan yang tangguh dan tanggap serta mampu menjalankan estafet perjuangan gereja. Namun, komitmen dan konsistensi itu sering diragukan oleh pihak di luar PMKRI, sehingga  muncul berbagai tanggapan yang kurang mendukung, misalnya dari hirarki gereja. Hal ini perlu juga kita refleksikan bersama, dimana letak kekurangan kita selama ini? Salah satu ialah  kurangnya komunikasi antara PMKRI dengan hirarki. Kurangnya komunikasi ini menimbulkan tidak adanya kesepahaman dan kerja sama yang baik dalam menjalankan perannya masing-masing.  
EKSTERN KATOLIK
Di samping berbagai kendala dan  tantangan yang dihadapi dari intern katolik, PMKRI juga mengalami kendala dan tantangan dari ekstern katolik, yang lingkupnya lebih luas. Dan  setelah membaca berbagai artikel dan diskusi dengan berbagai mahasiswa yang ikut organisasi di luar PMKRI, saya mengambil kesimpuan bahwa hampir semua keorganisasian mahasiswa mengalami kendala yang sama. Adapun 2 kendala terbesar (diluar katolik) yang dihadapi oleh PMKRI adalah sebagai berikut
1.       Rendahnya minat mahasiswa untuk berorganisasi
Saat ini, minat mahasiswa untuk berorganisasi boleh kita katakan rendah atau minim. Hal ini tidak terlepas dari mahasiswa sebagi individu, bagian dari  keluarga, masyarakat dan kampus.  Keadaan lingkungan tersebut otomatis mempengaruhi paradigma mahasiswa itu sendiri, terutama orang tua. Umumnya, orang tua beranggapan mahasiswa itu tugasnya hanya kuliah, kuliah dan kuliah.  Saya berani mengatakan hal ini karena saya juga mengalaminya. Padahal, kita sebagai mahasiswa dituntut harus mampu menjadi agen-agen perubahan ( agent of change) , pengawas ( social control) di tengah-tengah masyarakat. Mahasiswa harus mampu mengemban penderitaan kaum tertindas, menjadi benteng kaum lemah dan miskin,  dan  tugas itu mustahil bisa terwujud apabila kita berjalan sendiri-sendiri.

Maka, kita harus menyatukan persepsi dan konsepsi akan kondisi sekitar kita, dan kita akan mampu merealisasikannya melalui organisasi, baik intern maupun ekstra universitas. Salah satu organisasi ekstern universitas itu adalah Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) .

2.      Birokrasi Kampus dan Dosen
Saat ini, para pimpinan atau birokrasi  perguruan tinggi dan para dosen kurang mendukung aktifitas mahasiswa dalam mengembangkan kreatifitasnya, terkhusus dalam kegiatan berorganisasi. Hal ini dibuktikan dengan tanggapan dan pandangan miring para dosen tentang mahasiswa yang berorganisasi. Bahkan pandangan miring tentang mahasiswa berorganisasi ini dijadikan sebagai “nasehat empuk” untuk melunakkan mahasiswa lain (terutama mahasiswa baru) agar tidak ikut dalam organisasi-organisasi, terutama organisasi ekstern kampus. Kemudian, organisasi ekstern kampus terkena imbasnya, yaitu  terkendala dan kesulitan dalam merekrut dan mengajak untuk anggota untuk ikut dan aktif dalam kegiatan organisasi.

3.      Pemerintah
Pemerintah juga umumnya secara tidak langsung,  menginginkan mahasiswa itu hanya kuliah, kuliah dan kuliah. Pemerintah masuk akal memiliki prinsip demikian karena mereka takut di demo, di kritik, atau di intervensi mahasiswa kebijakan yang mereka tetapkan.

Tetapi, dengan berbagai kendala, tantangan dan dinamika yg dihadapi tidaklah memadamkan api semangat kita dalam mewujudkan visi dan misi perhimpunan ini. Segala yang terjadi di masa lalu hingga saat ini, mari kita jadikan sebagai proses pendewasaan organisasi dan pematangan kader-kader PMKRI agar mampu berkarya di tengah masyarakat.    

Religio Omnium Scientiarum Anima;

Pro Ecclesia Et Patria!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar